yomowo.com
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Mobile Blog


aneuknanggroe.yomowo.com

Aceh Dalam "Lhee Sagoe"

13.04.2009 22:50 EDT
Memang takdir Aceh berada di pucuk Sumatera, dan bila dipandang dr langit, tanah ini seperti segitiga (lhee sagoe). Bentuk geografis Aceh menjadi unik, sekaligus menginspirasi generasi Aceh. Dan sejarah Aceh pernah mencapai puncak kejayaan ketika kerajaan Aceh Darussalam didirikan tepat diatas pucuk segi tiga itu.

Aceh mempunyai struktur demografis yg beragam dgn sumber daya alam yg kaya. Penduduk NAD yg berjumlah sekitar 4,6 juta jiwa, tersebar di kawasan pantai dan pedalaman Aceh. Sebagian besar penduduk bermukim di sepanjang pantai Lautan India dr Singkil ke Banda Aceh dan sepanjang pantai Selat Malaka dr Banda Aceh ke Kuala Simpang. Mata penghidupan mereka terutama dr pertanian dan perdagangan.

Dalam kawasan segitiga itu terhampar kekayaan alam melimpah ruah mulai dr minyak dan gas bumi sampai kekayaan hutan dgn ekosistem yg utuh dan keanekaragaman hayati yg sgt kaya. Secara alami, kawasan hutan Aceh ini dikenal dgn kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yg menjadi jantung sekaligus penjaga kehidupan Aceh.

Konsep pembangunan Lhee Sagoe menghendaki Aceh utk membangun sentra ekonomi yg berorientasi ke utara, ke Banda Aceh sbg ibukota daerah dan Sabang sbg pelabuhan samudra daerah Aceh. Karena itulah, di thn 1970-an, pemimpin Aceh menggagas utk membangun pelabuhan Krueng Geukuh di pantai Utara Aceh yg didukung dgn membangun jaringan jalan penyangganya.

Infrastruktur jalan yg baik di kedua sisi, baik di Lintas Barat Selatan maupun Lintas Utara Timur Aceh dibangun utk menghubungkan kawasan pantai Lautan India dgn dinamika pembangunan Selat Malaka. Disepakati jg utk menjadikan jalur segitiga Meulaboh - Banda Aceh - Lhokseumawe (MBL) sbg sarana kawasan pertumbuhan Aceh.

Konsep pertumbuhan Lhee Sagoe hendaklah tdk dipahami sbg teori pertumbuhan ekonomi trickle down effect dimana arus pembangunan ekonomi berjalan dr atas ke bawah, namun jg berlaku sebaliknya. Dgn kata lain, kekuatan ekonomi Aceh tdk terletak di atas pucuknya tetapi di dua segi lainnya. Dan ini hanya akan terwujud jika infrastruktur Banda Aceh mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan penyangga. Jika tidak, aliran produksi alam Aceh akan tetap mengalir ke Medan.

Ketika kawasan penyangga tdk memandang ke Banda Aceh sbg kiblat aliran ekonomi, pertumbuhan ekonomi di tiga-segi Aceh tdk berlangsung dgn sinergi dan pembangunan internal Aceh menjadi sgt lamban. Sebaliknya, Medan akan menjadi pusat aktivitas ekonomi daerah Sumatra Utara dan Aceh, akan terus maju dan padat. Ketimpangan Banda Aceh dan Medan akan semakin kentara. Ketika ini terjadi, kita berharap Ali Mughayatsyah utk lahir kembali.


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.